Seminggu Setelah Nina Putus Cinta
Senin.
“Gue putus, Her.”
Tanda bahaya. Aku berbalik dari mesin fotokopi dan menghadap Nina
“Sama Dani?”
Nina mengangguk. Ada senyum konyol di wajahnya. “Sama siapa lagi?. Ya, sama Dani. Kemarin.”
“Tunggu sebentar, yak. Gue motokopi dulu, ngasih ini ke anak-anak, tar balik lagi lo cerita.”
“Ga pa-pa kok, Her. Lo di kelas aja ngajar.” Kata Nina.
Aku sudah membayangkan baju kerjanya dibasahi airmata anak itu. Coba tadi bawa serbet. Nina ini kan manjanya minta ampun. Curhatnya bakal panjang lebar, dan aku akan dipaksa memakai kemampuan hemisphere otak kanannya yang cuma empat puluh persen itu untuk MENDENGAR.
“Gue nggak apa-apa,” Nina berkata! lagi. “See?” Ia mengangkat tangan, memperlihatkan “diri”nya dengan norak. “I’m fine.”
Itu katanya. Isi diluar tanggung jawab percetakan.
Hari-hari berikut ini pasti akan sulit sekali.
***
Selasa.
Belum, dia belum menangis. Masih tidak memperlihatkan airmata setitik pun (padahal aku benar-benar bawa serbet dari rumah). Masih tersenyum. Rusya membelokkan mobil, menyusuri kompleks kampus. Nina bercerita.
“Dia sekarang jalan ama si Rita, adik temennya itu.”
“Cepet banget sih dapet gantinya. Dasar gemini. Si Dea kan gemini juga, Na, dia juga gampang deket ama cowok-cowok. Tau tuh kenapa tahan aja tu anak ma gue.”
“Mungkin Rita nggak banyak tuntutan kayak gue. Lagian emang sulit buat kita bertahan—we speak completely different languages. Dia IPA, gue IPS. Makanya gue pernah tanya lo, gimana orang IPA pacaran.”
“IPA, IPS? loe kata masuk UMPTN….”
“Otak kiri ama otak kanan maksud gue….”
“Ya, emang beda sih. Lo terbiasa ama bunga-coklat-bunga-coklat-bunga-coklat tiap hari sama pacar-pacar lo sebelum Dani. Gue ama Dea, lo liat aja, seminggu belum tentu ketemuan.”
“Ya, gitu deh. Ni lo ngajar di UII?”
“Nggak.”
“Ngopi, yuk.” Nina melihat keluar jendela. “Gila tu cewek bawa duren dua.”
“Kiri kanan?”
“Kiri.”
Aku terkikik. Nina menoleh padaku.
“Lo ngetawain gue ya?”
Aku terus tertawa.
“Sialan. Lo pasti nanya durennya di kiri kanan apa gue ngira lo nanya durennya di kiri apa kanan, tau.”
“Lo loadingnya lama banget sih, Na. Eror lagi.”
“Eh, ni serbet buat apaan, Her?”
***
Rabu.
Memang dia tidak menangis. Tapi nggak capek apa ngebahas soal Dani mulu! Dia dengan cueknya terus mengoceh selama Aku sibuk menulis transparansi untuk kelas bahasa Inggrisnya.
“Padahal gue tau sejak awal dia tuh pacarnya udah banyak….” katanya. Aku berjuang keras untuk berkonsentrasi*. Past Continuous, Past Tense, Past Continuous, Past Tense, Past—“Coba, Her, dia pernah kasih liat gue foto cewek-ceweknya itu. Gue ceweknya yang ke berapa coba? Yang ke dua puluh sembilan!!”
“Busyet. Digombalin abis lo ama si narsis itu.”
“Trus dikeluarinnya foto-foto itu dari rak, ‘ini lho mereka’, katanya Bayangin, Her, ‘ini lho mereka’ trus caranya foto-foto itu jatoh di atas tempat tidur…ya ampun, kata gue.”
Aku menyalin I (BREAK) A GLASS LAST NIGHT. I (DOP)P SOME WASHING WHEN IT (SLIP) OUT OF MY HAND dari buku ke atas transparansi, dan terus—MENDENGAR.
“Menurut gue dia cuma suka—well,I just playing with his mind, maybe.” Kalo nggak dikasih komen anak ini bisa ngambek.
“Tau deh….”
“Udah beres.” Aku merapikan meja, lega bisa sedikit “terbebas” dari curhat panjang Nina. “Pergi yuk.”
Kita keluar dari ruang guru lembaga kursus bahasa Inggris itu, dan melewati meja resepsionis. Pintu kaca depan dalam posisi tertutup seperti biasa. Tapi salah satunya ditempeli kertas berisi tulisan: PINTU INI RUSAK. GUNAKAN PINTU DI SEBELAHNYA–>
“Pintu di sebelahnya” itu bertulis “push”. Aku menempelkan tangan di sana, tapi Nina lebih dulu meraih handelnya dan MENARIK si pintu. Aku tersentak waktu pintu kaca itu mundur dan menghantam mukaku.
“OUCH!!”
“Lo kenapa, Her?” (Sialnya anak ini pake nanya!)
“Ini bacanya DORONG, Ninaaa, DORONG. Bukan TARIIIKK….”
Nina tertawa dengan begonya. “Sori. Soriii. Gue ga baca. Soriii….”
“Lo kok bisa jadi guru bahasa Inggris, sih Na??!!”
Aku merengut memandang semua orang di ruang resepsionis yang terpingkal-pingkal melihatku.
***
Kamis.
Oke, mungkin serbet ini sudah tidak diperlukan lagi.
“Lo serius mo ikut kelas gue?”
“Iya.”
“Tapi ini Teknik Elektro, Na.”
“Ya ga pa-pa. Kelas bahasa Inggris kan? Kelas gelombang mikro aja gue mo ikut, kok.”
“Masalahnya tampang lo tuh terlalu cewek buat jadi anak teknik. You’ll be too NOTICEABLE!”
“BODO AMAT!”
“Ya udah. Oke. Amat aja udah pinter, kok.” Bukannya menyerah begitu saja, tapi kalau ditinggal sendirian anak ini bisa bunuh diri. Kalau dia bunuh diri,( Aku yang pertama kali ditanya polisi dan dituduh semua orang.
“Tapi awas lo macam-macam di kelas gue!” warningku keras.
Nana menciut. “Iya, iya….”
Benar saja. Semua mahasiswa memandangnya sambil berbisik-bisik sewaktu Nina memasuki kelas. Nina cantik, masih 23 tahun, dan berada di antara sejumlah anak cowok dan segelintir anak cewek yang tak terlalu peduli pada penampilan. Karena ini universitas Islam jadi ia berjilbab. Dia memang terlihat lebih manis dengan jilbab itu.
“Temennya bapak ya?” tanya mahasiswa kepadaku.
“Ya. Kenapa? Mo kenalan? Sana.”
Nina mendeliknya.
“Okeh!” Aku membentangkan transparansi dan menyalakan OHP. “Past Continuous Tense versus Past Tense.” Mereka membahas duabelas nomor, dan semua berjalan lancar. Nana duduk di sudut kelas, di deretan paling depan, membaca. Para mahasiswa memperhatikan dengan baik.
Sampai mereka membahas nomor tigabelas.
“Well, thirteen. I—break—a glass last night. I—do—some washing when it—slip—out of my—MIND?”
Begitulah yang tertulis di layar OHP. Para mahasiswa menatapku (yang berusaha menahan malu) dan layar bergantian, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
Aku menatap Nina, “Did you say something when I—“
Nina sudah terpingkal-pingkal di tempat duduknya.
Aku mengumpat dalam hati. Dia yang putus cinta kok gue yang ketiban sial?
***
Jumat.
Mungkin bukan sindrom menangis, pikirku, tapi stabilitasnyalah yang “terganggu”. Tapi, selebih itu, Nina termasuk—tough—mengingat betapa manjanya dia dan betapa Dani pernah tergila-gila padanya beberapa waktu yang lalu.
Kopi-Kopi coffee shop. Aku punya seorang teman yang bekerja disini. Namanya Dhimas dia cakep. Teman-teman suka sekali padanya. Saat ini Aku, Rusya, Devi dan Zety berkumpul di satu meja. Mereka memang mau ngecengin Dhimas, tapi Aku punya misi sendiri mengajak mereka kesini.
Nina sedang ke toilet.
“Gue udah dua minggu ga ketemuan ama Dea,” kataku kepada teman-teman. “Ada kek yang mau nampung Nina besok? Tolong dong….”
“Dia nangis-nangis ya?” tanya Zety. “Duh, kalo Nina udah nangis gue nggak sanggup, Her….”
“Nggak—nggak, dia nggak nangis! Sumpah!” Cuma agak kurang stabil tapi kalau ini diceritakan semua pasti mundur. “Ajakin aja shopping, apa nonton….”
Rusya baru akan mengatakan sesuatu, tapi ia kembali menarik tubuhnya. “Dia datang,” bisiknya.
“Eh, lo inget bunyi hukum kekekalan energi nggak?” kataku sekenanya. Rusya, Devi, dan Zety saling pandang, garuk-garuk kepala, dan menunduk.
“Lagi cerita apa sih?” tanya Nina.
Rusya dengan spontan dan jenius menjawab. “Guru IPA gue waktu SMP pernah bilang, kalo kita2 pegang sesuatu yang panas, trus ujung jari kan berasa panas, sebaiknya pegang ujung kuping. Pasti rasanya dingin, deh.”
“Eh, masa? Tar gue coba, ah,” kata Devi.
Kopi datang, dibawa dengan nampan kecil oleh—ni dia orangnya si cakep Dhimas, teman SMA-ku yang jadi superviser di tempat ini.|
“Wah, makasih, Dhim….” nampan itu langsung dijamah oleh semua tangan sebelum ia mencapai meja.
“Eh, awas, masih panas,” kata Dhimas. “Pegang kupingnya.”
Aku meraih gagang cangkir (tahu kan gagang cangkir sering juga disebut “kuping”), seperti yang dilakukan Devi, Rusya, dan Zety. Tapi, Nina dengan pikiran entah kemana memegangi ujung kupingnya dengan satu tangan, dan gagang cangkir dengan tangan yang lain.
Rusya tersedak, sebelum ia dan semua yang ada di meja itu tertawa terbahak-bahak. Nina, dengan bodohnya memandang teman-temannya penuh tanda tanya. Aku menutupi wajah, ingin rasanya berkata pada semua orang, “Bukan, bukan teman gue, kok….”
“Ngetawain apa sih?” tanya Nina polos. Butuh beberapa saat sebelum akhirnya dia menyadari the joke was on me.
Tiba-tiba dia menangis.
Rusya, Zety dan Devi langsung diam.
“Duh, Na, soriii…,” Aku mengulurkan tangan memeluknya. “Kita—nggak bermaksud ngetawain lo, kok….”
“Iya, Na. Sori, sori.” Zety ikut-ikutan.
Nina terus mengangis. “Dani jahat,N but I keep running to him…gue emang bego, kok. Hiks….”
Aku mulai turut sedih Nina akhirnya menangis. Pasti sebenarnya dia ingin menangis. Itulah yang berusaha ditahannya selama beberapa hari ini. Ketiga temannya yang lain saling pandang tanpa tahu harus berbuat apa. Tapi, sebelum Aku terpikir untuk menelepon dan memaki-maki Dani si narsis itu, Dhimas mendekat, dan mengulurkan saputangan kepada Nina.
Kedua orang itu lalu saling tatap lama dengan norak seperti di film-film India. Rusya, Devi dan Zety merengut.
Aku tersenyum. Senangnya. Sabtu-minggu besok akhirnya aman.
***
(buat Rusya :D met ultah,nduD!)
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.