
Ulin terpaksa menjadi pelacur jalanan sampai akhirnya ia secara tidak sengaja bertemu Bert (Keith Foo) seorang eksekutif muda yang sukses dan tumbuh benih cinta diantara keduanya. Latar belakang yang berbeda menimbulkan masalah dalam hubungan mereka. Bagaimana kisah cinta mereka selanjutnya ditengah persoalan Narkoba, Women Trafficking, Pelacuran, Anak Jalanan dan masalah sosial lainnya?
Jenis Film :
Drama
Produser :
Linda Rahman, Nanang Istiabudi
Pemain :
Poppy Bunga
Keith Foo
Renny Novita
Ayang
Fahmi Aditya
Sutradara :
Nanang Istiabudi
Penulis :
Jimmy S. Johansyah
Download Film Indonesia
http://www.fileserve.com/file/JBfytFg
http://www.fileserve.com/file/GPktphe
http://hotfile.com/dl/50171687/8153253/Bidadari_Jakarta_VCD01.avi.html
http://hotfile.com/dl/50171755/08d606b/Bidadari_Jakarta_VCD02.avi.html
http://rapidshare.com/files/402048532/Bidadari_Jakarta_VCD01.avi
http://rapidshare.com/files/402048616/Bidadari_Jakarta_VCD02.avi
]]>
dibawah ini daftar PTC Indonesia

Bila nama yang aku pertahankan telah pergi begitu saja, pantaskah ia diagungkan? Memang, nama itu terngiang jelas menari di setiap sudut pikiranku. Maklum, bertahun-tahun lamanya ia hadir temani aku, mungkin bisa dibilang hampir seperempat hidupku.
Lalu aku coba menyusuri jalanan kota. Lampu-lampu temaram yang menghiasi, kendaraan yang lalu lalang, masih tetap tak mampu membuat aku lupa akan dirinya. Bahkan pikiran itu semakin kuat kurasakan.
Aku semakin rindu akan dirinya. Entah apa yang membuatku selalu rindu. Aku tak mampu menyangkalnya. Ia begitu sempurna di mataku. Ia begitu membuat aku gila. Dan akhirnya, aku biarkan saja rindu itu datang padaku
masherry
dikamar bisu nan bau
@nginpun enggan mampir
Mimpi itu kata sebagian orang indah. Mimpi itu lagi-lagi kata orang menyenangkan. Kita bisa membolak-balikan ending cerita seperti yang kita mau, tidak hanya berakhir bahagia tapi juga bisa memilihnya menjadi ending yang berakhir derita. Berbagai macam orang boleh bermimpi, mimpi tentang hidup, mimpi tentang cinta, mimpi tentang kebahagiaan atau mimpi apapun. pikiranku pun akan selalu berteriak:
“Ayoo Herry! Bermimpilah…bermimpilah yang indah!”
Tapi, sepertinya setiap mimpi yang aku punya tak pernah berakhir indah, malah kepedihan yang ada di depan mata. Makanya aku tak pernah berani lagi untuk bermimpi apalagi menuliskannya.
Aku pernah bermimpi menulis semua mimpi. Ketika mimpi yang tertulis semua tampak indah. Khayalan yang diformulasikan menjadi ledakan-ledakan harapan. Kenyataan yang bahagia seakan ke dalam bentuk yang nyata. Indah semua mimpi yang tertulis, segan rasanya dan tak ingin berniat merangkai serta membentuk mimpi yang berakhir nestapa apalagi menuliskannya dengan akhir menderita.
“Kita hidup mesti memiliki mimpi..mimpi yang indah! Mimpi itu bisa jadi harapan dan cita-cita!” kalimat tersebut yang kerap kudengar ketika masih bersekolah. Ketika pak guru ataupun ibu guru mengajari kami, anak muridnya. Sehingga kata-kata tersebut memotivasi aku untuk memiliki mimpi bahkan menuliskan mimpi dengan akhir yang sangat… sangat… dan sangat indah.
Entah apa cita-cita yang kebablasan diusung dalam bentuk mimpi, atau memang mimpi yang kutuliskan berdasarkan dari cita yang ku inginkan. Maka dari itu, aku terus giat bermimpi. Bahkan tidak hanya di pikir, tapi aku menuliskannya. Menuliskan beraneka ragam mimpi yang kuharap menjadi kenyataan terindah yang ku alami dalam kehidupan.
Tapi apa buktinya!! Ternyata mimpi indah itu tak ada, mimpi indah itu hanya milik orang-orang yang kaya, priyayi turunan yang memiliki harta yang banyak, mimpi indah itu tidak dimiliki oleh orang-orang seperti aku, Tole, Johan, Yuk Narsih, atau Mbok Jum. Orang-orang yang berharap besar terhadap kehidupan kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau kota besar lainnya. Di kota lebih mudah mencari uang dari pada di kampung, itu pikiran kami. Jadi, saat inipun aku sedang terdampar di salah satu kota besar tersebut untuk bermimpi suatu saat akan mendapat durian runtuh.
Bagi kami tidak ada mimpi yang indah. Tidak ada mimpi yang menuai harapan, mempunyai mobil mewah minimal dua, memiliki pendidikan yang tinggi, mempunyai rumah real estate dengan kolam renang di dalamnya, punya pakaian bagus, makanan dan minuman yang lezat disantap setiap hari.
Makanya sekali lagi kutegaskan aku tak berani bermimpi, apalagi menuliskannya. Bagiku bisa makan hari ini sudah alang kepalang nikmatnya, boro-boro mau bermimpi makan enak setiap hari, toh mimpi yang indah tak akan datang pada kami.
Baiklah… akan kuceritakan tentangku dahulu. Namaku Herry. Dulu aku rajin menulis, menulis apa saja walaupun Mbok Jum bilang tulisanku rada ngawur dan nyeleneh. Tapi beliau berkata kalau tulisanku indah, dinding lebar bekas supermarket terkenal di daerah alun-alun kota yang telah bangkrut hampir terisi penuh oleh tinta arang yang kugunakan. Kertas-kertas kardus yang aku kumpulkan untuk sekedar menambah-nambah penghasilan dari mengamen, tak luput oleh tulisan puisi-puisi picisan.
Semua aku tulis dengan tema yang berbeda. Mulai dari bagaimana lelahnya mencari uang, berkelahi dengan preman, melihat mobil yang berseliweran pun aku menuliskannya. Aku pikir lumayan dengan menuliskan apapun, maka susunan otakku yang bodoh mesti terus di asah supaya tidak semakin tinggi tingkat kebodohannya. Jadi dengan menuliskan mimpi kuharap sensor-sensor otak ku merespon positif sehingga pribadi yang tercipta pun akan semakin membaik.
Mimpi pun aku tuliskan pada dinding ilusi, merangkai hurup, membentuk kata tersusun menjadi kalimat yang bermuara pada paragrap-paragraf mimpi, dan tentu saja akhir mimpi yang aku tulis selalu berakhir kebahagian, keindahan, coba lihat saja mimpi yang dulu pernah aku tulis
• Mimpi satu.
Pernah suatu saat aku menuliskan mimpi memiliki rumah yang megah, bertingkat lima, kolam renang yang luas, halaman rumah yang mempunyai area tanah yang luasnya lebih dari lapangan sepak bola tempatku biasa bermain, rumah megah yang memiliki kamar-kamar berukuran 10×10 berjumlah lebih dari 1000 kamar.
Kamar-kamar tersebut akan di desain dengan gaya minimalis yang terkesan esklusif, dilengkapi dengan fasilitas elektronik yang tercanggih, akan dipasang pada tembok kamarnya monitor televisi layar datar ukuran besar entah namanya apa- yang pasti aku pernah melihat brosurnya disalah satu tong sampah di kawasan Asia Afrika- rancangan kamarnya bergaya Eropa tapi tetap terkesan sederhana.
Jangan aneh kalau aku ingin membuat lebih dari 1000 kamar, kamar itu bukan untuk aku pribadi tapi untuk semua teman-teman seperti diriku, yang ternyata jumlahnya tersebar banyak di kota besar manapun. Aku akan menampung mereka dirumah mewahku, memberikan fasilitas gratis dan juga pendidikan gratis bagi mereka.
Aku tidak mau seperti para konglomerat ataupun orang-orang berduit, yang membangun rumahnya layaknya sebuah istana dan memiliki kamar-kamar bergaya suite. Memiliki rumah lebih dari satu dan tersebar ditiap daerah. Tapi tidak mempedulikan para orang miskin dan anak jalanan seperti kami. Yang tak mau memberikan lahan tidur buat orang miskin. Sungguh menyedihkan malahan ruang yang kosong di rumah megah orang-orang berduit itu hanya dibuat untuk keperluan lantai dansa, coffe bar ataupun ruang pesta yang dipakai sesekali saja
* Mimpi dua
Aku pun pernah bermimpi ingin mempunyai pendidikan yang tinggi. Lulus SD berlanjut ke SLTP, selesai SLTP kemudian SLTA lalu ke UNIVERSITAS ternama, meraih S1 dengan cum laude kontinyu ke S2 di Belanda lalu terbang ke Amerika untuk mengambil S3 karena beasiswa. Kenapa Belanda? Kenapa Amerika? Sangat simple….aku ingin memperlihatkan ke mereka bahwa orang Indonesia itu pintar, orang Indonesia itu mempunyai IQ yang tinggi walaupun pernah dijajah Belanda, sehingga mendapatkan beasiswa untuk yang setingkat S3, kalau ingin ke Amerika aku justru tidak tahu alasannya, tetapi aku sering mendengar kalau Amerika itu negara yang serba ada dan serba canggih jadi aku ingin bersekolah disana.
Dengan pendidikan yang tinggi tersebut, aku akan terapkan ilmunya di negara tercinta ini, tidak seperti mereka yang ditahan di negara-negara tempat mereka menimba ilmu dengan alasan gaji di Indonesia sedikit, di Indonesia taraf kehidupannya belum stabil untuk orang-orang berpendidikan, di Indonesia pemerintahnya masih menganggap tiada bagi orang-orang berintelektual tinggi dan hanya dihargai senilai lulusan SLTA, jadi mereka yang berpendidikan itu betah “berlama-lama” di negeri awal mereka meraih gelar.
Tapi aku tidak akan seperti mereka. Tujuanku berpendidikan tinggi bukan untuk mencari kerja, tetapi aku ingin mendirikan lapangan pekerjaan. Membuka lowongan usaha selebar-lebarnya, sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya. Tidak hanya itu aku akan memberikan pendidikan ataupun keahlian nyata bagi orang-orang miskin yang tak mampu bersekolah. Anak-anak jalanan yang mengadu nasib di jalan karena tak tahu apa lagi yang mesti dikerjakan selain meminta-minta tentunya dan mendapat cap sampah masyarakat!
Ingat….! Gelar Professor, Doctor, Master, bahkan seabrek gelar yang kelak aku miliki tujuannya bukan untuk mencari pekerjaan, tetapi sekali lagi aku garis tebalkan adalah untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Sehingga tidak ada lagi anak-anak yang masih “bermain” di jalan sampai larut malam hanya untuk mendapatkan makan. Atau melihat Mbok Jum ataupun Yuk Narsih berkeliaran di tengah malam menunggu datangnya para hidung belang karena tak mengerti caranya mencari uang di tengah saingan orang-orang pintar.
* Mimpi tiga
Sempat juga aku mempunyai mimpi memilili rumah megah, pendidikan tinggi, mempunyai perusahaan sendiri, bisa mempekerjakan orang, memberikan peluang usaha bagi teman-teman . Tentu aku pun mempunyai mimpi dasar, naluri laki-lakiku mesti tersalurkan, libidoku tak boleh dipendam. Iya..! Aku bermimpi mempunyai keluarga yang bahagia, mempunyai calon istri yang cantik, pintar, taat orang tua, dan yang terpenting shalehah serta seiman.
Calon istriku selain cantik dia mesti pintar karena untuk menyeimbangkan pola pikir ku yang lulusan S3, calon istriku mesti piawai mengurus rumah tangga, walaupun istri pintar, dia harus bisa melakukan pekerjaan inti sebagai seorang wanita, tidak hanya karier yang di urus tetapi dia mesti mau mengurus bakal anak kelak, mengurus ibu bapakku bila telah renta -walaupun kenyataannya aku tak tahu kemana perginya mereka-, menciptakan keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah, mendidik putra putri kami dengan basic agama yang kuat, agama yang benar.
Benar aku bermimpi menikah di usia muda di umur 28. Senangnya ketika umur 28 tersebut, gelar S2 sudah ku miliki. Beristri yang cantik, pintar dan sholehah. Ketika S3 sudahku dapat, mungkin usia ku belum terlalu tua. Whoooaah senangnya menikah muda! Coba bayangkan, perusahaan ada, rumah tersedia, mobil ada lima, calon istri siap sedia……apa lagi ???? tidak ada sempurnanya hidup selain seperti itu.
Terbaca bukan betapa hebatnya mimpi-mimpi yang pernah aku tuliskan. Begitu indah akhirnya. Tiada kepahitan, tiada kecemasan, segalanya tampak hebat. Tapi apa yang terjadi, aku katakan mimpi itu tidak ada yang indah bagiku, berkali-kali kutekankan mimpi indah itu milik kaum-kaum berduit. Berhari-hari aku menulis mimpi tersebut, beribu-ribu minggu, berjuta-juta bulan, bahkan ternyata bermilyar-milyar tahun rasanya mimpi indah itu tak akan bisa ku dapatkan untuk menjadi sebuah kenyataan.
Putus asa….tentu saja tidak?! Tapi aku termasuk orang yang mawas diri, tolong bedakan antara putus asa dan mawas diri. Buktinya semuanya hilang, karena mimpi itu tak pernah datang! Apa kalian tidak percaya apa yang telah ku katakan?!
====================================
Terinspirasi dari Ryu my best friend @Tangerang
Thanks for sharing your story about dream
Hope all about uR dream will come true
====================================
Tak ada yang bisa dari mereka yang bisa meminjamkan uang seribu-dua ribu layaknya sahabat di dunia nyata. Tak ada yang mau mendengar keluh kesahku saat suaraku bercerita lemah tak bertenaga.Mereka lebih suka statusku yang kontroversial.
Kembali ke orang yang kukira biasa itu. Pada akhirnya aku tahu dia tak biasa, setelah membuka profilnya fotonya berisi wajah-wajah yang tak asing bagiku. Aku merasa pernah mengenalnya. Tapi dimana? pikirku agak lama. Kucoba menerima permintaan menjadi teman dengannya. Iseng-iseng kukirimkan pesan untuknya, barangkali dia memang kenalanku yang nyaris kulupakan. Pertanyaan pertamaku adalah, apakah kita* pernah berkenalan?
Tak begitu lama, dia mengirimkan pesan balasan padaku. Dia merasa tak mengenalku, dan cuma menambahkan( aku sebagai teman hanya karena di situs tersebut ada pilihan “disarankan untuk menjadi teman”. Baginya lebih mudah memilih mengiyakan siapa tahu memang menjadi teman beneran. Mendapat jawaban begitu aku cuma manggut-manggut, sekaligus tersipu malu. Itu seperti menyapa orang yang kita kenal, tapi ternyata bukan yang kita harapkan. Tapi tetap saja, aku belum merasa tenang.
Sejenak aku melupakan teman baru itu, dan beralih ke tempat yang lain. Chatting, adu status, buka forum, baca koran online, hingga sesekali melotot ke situs yang panas karena penuh api untuk membuat mataku gerah berair. Lalu aku menyeka dengan tanganku, karena meski di dalam kamar gengsi kelaki-lakianku tetap tinggi. Aku tak ingin siapa pun melihat aku kelihatan menangis padahal itu hanyalah sela-sela mataku yang berkeringat. Lalu petualangan itu berlanjut lagi hingga ujung yang aku sendiri tak sadar dimana letaknya.
“Diana”
Aku membaca sebuah nama tulisan nama seperti nama mendiang puteri dari Inggris.
“Di..,”bisikku lirih tanpa ingin melanjutkan suku kata selanjutnya.
“Di……….”
Itu seperti penggalan nama seseorang di ingatanku. Seseorang yang kupikir pernah bercerita tentang sakit hatinya karena pria cinta pertamanya merampok kegadisannya dan pergi begitu saja dengan wanita lain. Seseorang yang mengadu nasib berjuang mengalahkan trauma cinta pertama demi menggapai hubungan cinta sejati pada kekasih kedua. Berharap itu yang kedua, dan yang terakhir. Tapi, pada akhirnya dia mengumpat. Tepat di telingaku, berteriak tentang semua laki-laki yang sama saja. Dia kecewa karena harapan cinta sejatinya kandas juga.
Aku cuma tertawa kecil dalam hati. Kisahnya sedih seperti judul lagu-lagu dangdut sedih, seperti konflik film india yang terlalu dibuat-buat, seperti sinetron sedih tak berujung. Klise. Tapi aku menunjukkan tawaku itu.
“Kalau semua laki-laki sama, kenapa mau cerita denganku?’
Dia menatapku dengan tajam. Awalnya kami berpandang mata, lalu bola matanya turun ke bawah perutku.
“Aku belum pernah melihat celanamu gembung berisi kalau kita berdekatan. Jadi kupikir kamu..,” ucapannya tak berlanjut tapi dia bicara sambil tertunduk malu-malu.
“Oh, begitu.”
Dia tertawa mendengar jawabanku yang pendek, mungkin karena dia melihat aku juga membuang wajahku yang masam setelah dilecehkan olehnya dengan kalimat itu.
“Maaf.”katanya dengan suara sungguh-sungguh.
Setelah itu kami tak bertemu lagi. Kami hanya bertukar kabar lewat pesan pendek. Setiap hari kabarnya sama. Stress, pusing. Semua karena pria cinta pertama ingin kembali padanya, atau pria kedua ingin bercinta dengannya untuk terakhir kalinya.
Katanya, pria pertama meneleponnya dengan ancaman akan bunuh diri jika tak menerimanya kembali. Saat dia menelepon, terdengar suara-suara teman pria itu yang gaduh mencegah pria* itu membuang minyak tanah ke sekujur tubuhnya. Kata temanku itu, dia takut pria itu bunuh diri tapi dia sakit hati*. Aku dimintanya kembali tapi dia masih tidur sekamar dengan wanita lain, begitu tulisnya dalam pesan pendeknya suatu malam.
Tentang pria kedua, dia mengaku merasa nyaris gila juga. Setiap hari pria itu mengirim pesan-pesan pendek mesra atau menelpon dengan desahan-desahan menggoda. Memohon agar diijinkan( bercinta sekali saja. Bahkan saking gilanya, pria kedua ini selalu meneror pria lain yang ingin mendekati teman wanitaku ini. Pria itu sebenarnya cuma pria rumah tangga dengan tugas mengurusi anak -anak mirip seperti ibu rumah tangga. Perbedaan untuk pria kedua ini, dia sebagai bapak rumah tangga, sedangkan istrinya bekerja. Aku pernah dimintanya ke rumahnya menina bobokkan anaknya yang masih bayi itu kemudian melayaninya bercinta saat istrinya sedang bekerja di luar. Habis-habisan kumaki hingga keluar semua kata-kata kebun binatang pada laki-laki itu, katanya di ujung kisah lirih lainnya yang dia kirim padaku.
Hatiku hancur bercampur bingung tiap kali dia mengirim kisah sedih padaku. Tapi aku tak bisa bicara banyak. Setelah itu beberapa saat, kami tak saling mengirim kabar lagi. Sempat kutanyakan kabar, tak dibalas. Mungkin dia menyesal berteman denganku, begitulah kataku pada diriku sendiri.
Namun suatu hari dia muncul. Bukan di depan pintu rumahku, atau kamarku. Dia meneleponku. Suaranya sayup-sayup kudengar penuh suara ramai. Aku gagap menerima teleponnya.
“Aku akan berangkat.”katanya dengan suara terdengar riang.
“Kemana?”
“Ke luar negeri.”
“Oh, urusan pekerjaan?”
“Bukan. Aku menikah. Dia memberiku cincin yang besar, besar sekali.
“Siapa? Pria pertama? Atau Pria kedua?”
Tawanya pecah mendengar pertanyaanku.
“Dasar anak bodoh. Bukan dua-duanya. “Jadi ada pria ketiga?”
“Hahahaha..salah.”
“Maksudnya?”
“Pria keempat.”
“Kamu tidak pernah cerita ada pria ketiga.”
“Memang. Aku tak menghubungimu selama ini karena jatuh cinta dengan pria ketiga.”
“Lalu kenapa menikah dengan pria keeempat?”
“Tiga hari yang lalu pria ketiga memutuskan aku karena dijodohkan orang tuanya dengan wanita lain. Aku sakit hati dan mabuk-mabukan dari bar ke bar. Aku bertemu dengan pria keempat ini di situ Katanya dia mabuk cinta padaku.”
Aku tercenung dengan ucapannya. Aku melihat ke udara, barangkali bisa kulihat bayangan dewa Cupid. Karena jika aku bisa melihat dewa cinta itu, aku akan membanting habis-habisan. Salahnya kenapa menembakkan terlalu banyak panah cinta kepada wanita itu.
“Laki-laki itu pasti sedang mabuk bicara begitu. Hey, Kamu tidak mabuk khan, sayang?” tanyaku pelan-pelan.
Kini tawanya pecah lagi.
“Baru sekarang kau memanggilku sayang. Biasanya kau memanggilku wanita dodol, ha ha.”
Aku tersenyum kecut dengan ucapannya. Aku tak terlalu berpikir soal itu, malah mengkhawatirkan keadaannya.
“Sudah kamu pikirkan keputusanmu.”
“Sudah.”
“Bagaimana kalau dia punya sudah punya istri.”
“Entahlah. Aku tak tahu. Aku tak mau tahu.”
“Lalu kapan kamu kembali?”
“Mungkin tidak kembali. Jika aku kembali, mungkin kamu akan menyebutku turis asing.”
Sejenak aku merasa bumi yang ramai ini berhenti berputar, lalu sepi sekali seperti kuburan.
“Apa kamu yakin pergi? Aku rasa aku bisa belajar membuat celana di bagian bawah perutku menjadi sempit,” ujarku pelan, “Asal kau tak pergi.”
“Ha ha, Dasar anak kecil, aku pikir kau takkan pernah bicara begitu padaku. Maaf sayang, aku sudah menikah. Sudah ya, suamiku memanggil..”
Lalu dia menutup telepon ituI. Aku menangis, entah sedih atau bahagia. Dalam sekejap aku merasa sudah berada di bandara melambaikan tangan dengan hati hancur kepada setiap pesawat yang berangkat entah kemana.
***
Aku terbangun dari istirahat siangku menjelang sore. Aku tergopoh-gopoh membuka komputerku, sesekali mengumpat karena merasa mesin pintar itu terlalu lama bekerja. Sambil berdoa jaringan internet tak putus, kembali membuka situs pertemanan itu. Kemudian mengirim sebuah pesan pertanyaan,
“Kamu Dy? Maksudku Devy, khan?!
Tak ada jawaban. Kutunggu beberapa jam. Terakhir aku memerika profilnya, data pribadinya sudah lenyap. Aku putus asa, dan meletakkan kepalaku di tempat tidur.
Aku baru sadar saat bibirku disentuh dengan lembut oleh bibir yang lain.
“Di, kamu pulang juga akhirnya!.”ujarku sambil mengulum bibir itu. Namun, kecupan itu terlepas.
“Di? Itu siapa, mas? Namaku tidak ada panggilan “Di”?
Aku membuka mata, melihat wajah pacarku ketus.
“Mati aku! Salah sebut nama.
==========================
jogja’09
tak bisa menilai harga
tak mampu mengukur panjang
tak dapat menimbang berat
dapatkah kutahu siapa aku?
==========================
masherry di kamar sepi nan bau
@ngginpun enggan mampir
kutuang air panas dan kuaduk hingga tuntas, hitam pekat tersenyum dan wajahmu pun menyeruak membayang kedalam pantulannya berkelebat
hanya saja obrolan kita malam ini,berkenalan berperantakan cpu,never feel so addicted with this taste of coffee, but you make this so much more than tasty
kopi kini sudah lebih bermakna sebagai arti persahabatan denganmu
masherry
jogja june’09
dikamar bisu nan bau
@nginpun enggan mampir
kecewa,, satu kata yang terasa menyiksa…
membuat raga dan hatiku merasa terluka
sungguh,, aku tak’kan pernah memaksa
untuk dapatkan cinta yang sempurna…
kuhanya tau kau tak pernah punyai rasa
satu tulus yang kupinta,, dari hati yang kau punya
Maaf, maksud Anda?
“Jadi begini saudara-saudara,
Aiueo maiueo sauieo
Naninuneno nono
Nah, nana nini nunu
Jadi, pilihlah saya.”
Tolong, gunakan bahasa kami
“Oh, Anda tidak paham?
Baiklah saya ulangi sekali lagi,
Aiueo maiueo sauieo
Naninuneno nono
Nah, nana nini nunu
Jadi, pilihlah saya.”
Maaf, kami butuh penerjemah
“Ah, Anda mulai payah
Maksud saya itu begini,
Saya ulangi sekali lagi
Masa tidak tahu
Jadi begini
Aiueo maiueo sauieo
Naninuneno nono
Nah, nana nini nunu
Jadi, pilihlah saya.”
Beribu maaf, kami masih tak mengerti
Tentang apa yang Anda katakan.
=====================
aku ga perduli dengan politik
atau siapapun yang memimpin
tidak ada kebenaran
yang ada hanyalah pembenaran
kata manis janji manis kalian
tidak akan merubah apapun
karna……
aku tetap saja masih menjadi seperti yang kemarin
======================
“sepintas terinspirasi ngetik ini saat liat tayangan tv semua channel tentang politik”
masherry
jogja’09
di kamar bisu nan bau
@ngginpun enggan mampir
Akhirnya rasa bosan itu pun muncul, rasa bosan dengan doa yang sampai saat ini belum dikabulkan dan rasa malu yang mendera ketika melihat teman - teman serta adik - adiknya yang sudah mendahuluinya menikah. Terkadang dia jadi bahan olokan teman - teman dan bahkan keluarganya dengan statusnya itu, hal tersebut yang semakin membuatnya tertekan.
Suatu malam yang biasanya dia bangun malam dan berdoa seperti biasa, kali ini tidak dia laksanakan rutinitas tersebut karena dia merasa lelah dengan semua itu. Saat terlelap dalam tidurnya itu dia bermimpi bertemu dengan seseoarang, dia mencoba melihat wajah orang tersebut namun tidak bisa karena begitu silaunya.
Orang tersebut bertanya, “Mengapa engkau tidak bangun malam dan berdoa seperti biasa ?”
Pemuda itu hanya menjawab, “Malas !!! Toh selama ini doaku sama sekali tidak terkabul.”
Orang itu kembali bertanya, “Memang kamu doa apa ?”
“Aku setiap malam selalu berdoa agar aku mendapatkan jodoh yang penuh kasih sayang, lembut, pemaaf, dan sabar. Namun sampai saat ini jangankan jodoh seperti itu, saat ini aku bahkan belum mendapatkan seorang wanitapun sebagai teman hidup, bagaimana aku bisa menikah?!! Sedangkan orang tua dan saudara serta teman - temanku selalu menanyakan kapan kamu menikah !? Kapan Kamu menikah !? Pusing, bosan, malu aku mendengar pertanyaan itu.” jawab pemuda itu sambil sedikit curhat.
“Tuhan sungguh tak adil padaku !” katanya lagi
“Apakah itu yang kamu sebut adil ? Jika semua itu diberikan kepadamu apakah itu adil ? Kau meminta kepada Tuhan jodoh yang penuh kasih sayang sedangkan kau masih sering kasar ! Kau meminta jodoh yang pemaaf sedangkan engkau sendiri selalu menyimpan dendam, kau juga meminta jodoh yang sabar sedangkan engkau sendiri mudah marah dan emosional.
Apakah itu adil ?! Adalah lebih baik jika Tuhan memberikan kepadamu seseorang yang tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulang dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.” jelas orang itu.
Seketika pemuda tersebut tersentak dalam tidurnya. Sambil tubuh mengeluarkan keringat dingin, dia pun terdiam, membisu, merenung ,tertohok, sejenak. Ada rasa sesak di dada. Air mata itu pun jatuh, pelan tapi pasti.
Langit terasa damai, angin berhembus pelan, bintang bersinar terang, bulanpun tersenyum lembut dan pemuda itupun bersujud pada-Nya seraya berdoa.
“Berikanlah pasangan yang baik untukku, hidupku, agamaku, dan masa depanku. Aminn…”
masherry
dikamar bisu nan bau
@nginpun enggan mampir