END OF A DEATH
Aku tidak pernah tau bagaimana aku mati nanti, tapi yang aku tau aku harus melakukan sesuatu sebelum hari itu datang. “Heriii…!!!” teriak Dinda yang histeris memanggilku saat aku sedang melamuni takdirku, takdirku yang tidak diketahui oleh seorang pun kecuali orang tuaku. “Her…jangan bengong terus dong. Temenin gue yuk kekantin, laper nih” histris Dinda yang tidak bisa diam kalau perutnya sudah lapar. “iya, lagian siapa yang bengong” kataku sambil menghampiri Dinda dan lekas pergi.
Setelah sampai dikantin kantorku yang super bersih itu dan memesan sebuah mie ayam plus minuman kalengnya aku kembali terfikir dengan nasibku, nasibku yang telah divonis oleh dokter enam bulan yang lalu bahwa aku mengidap penyakit yang senantiasa mengantarkanku pada kematian, yaitu penyakit leukimia. Tapi kini aku merasa bahwa vonis itu seakan terus mengejarku karena dokter memperkirakan bahwa hidupku tidak akan lebih dari satu bulan kedepan,TIDAK AKAN LEBIH. “Her, sebenernya gue lagi sedih nih. Gue mau curhat sama loe” celetuk Dinda yang membangunkan aku dari lamunan “hah…oh…iya cerita aja” “nyokap sama bokap gue Her, mereka mau cerai. Gue gak mau itu terjadi, setiap hari mereka berantem terus lagi” “kenapa enggak loe ungkapin sama orang tua loe kalau loe gak mau mereka pisah?” tanyaku simpati “udah Her, tapi mereka terus aja bertengkar tanpa memperdulikan gue” kata Dinda yang tidak bisa menahan kesedihannya dan akhirnya menangis. Aku jadi panik, dan mencoba meredamkan tangisan sekaligus emosinya yang meluap-luap “duh Din, jangan nangis dong. Kalo loe nangis gue jadi ikut sedih. Kalau ada yang bisa gue bantu buat loe bilang aja, siapa tau gue bisa bantu” bujukku sambil mengusap air mata Dinda. Dinda menghapus air matanya lalu mencoba tersenyum, “loe engga perlu repot-repot melakukan apapun, gue udah bersyukur bisa mempunyai teman seperti loe. Yang gue mau loe janji sama gue bahwa loe akan ada terus disisi gue entah sampai kita besar atau tua nanti”. DEK,,, aku tersentak terdiam dan mukaku entah bagaimana pucatnya. Dalam hatiku aku menangis seakan berkata gue minta maaf Din,karena mungkin gue gak bisa menemani loe sampai nanti. Waktu gue Cuma tinggal sedikit. Maafin gue Din, maaf… “ Her, loe kenapa?” tatap Dinda cemas “ Enggak kenapa-kenapa” sambil tersenyum. Dalam relungku aku berjanji kepada Dinda, walaupun aku tak bisa menemaninya sampai batas waktu yang ia inginkan tapi aku akan melakukan sesuatu untuknya agar dia bahagia. I’m promise Din,,,
================================================
================================================
Kuhentakkan kakiku dengan pasti sambil berjalan di sebuah koridor dengan seseorang yang paling aku sayangi, Ibuku. Koridor ini memang sudah familiar dan seakan menyambut kedatanganku tuk yang kesekian kalinya, koridor tempat aku sering merasa ketakutan setiap aku melangkah semakin dalam. Yah inilah koridor tempatku cek up, koridor rumah sakit.
Disepanjang jalan koridor kali ini aku mencoba untuk tetap tersenyum sampai selesai cek up nanti, tapi ternyata ibuku yang tercinta itu tidak setegar aku. Ibuku dengan kepedihan yang mendalam menangis ketika dokter yang sering kami datangi untuk berobat itu mengatakan sudak tidak ada lagi upaya yang dapat ia lakukan untuk menyembuhkan penyakitku aplagi setidaknya mengulur waktuku untuk lebih lama lagi berada didunia ini. Dokter siswoyo kusumo yang sering kami panggil dokter woyo tetap pada hasil pemeriksaannya bahwa umurku yang berharga bagiku ini tidak akan lebih dari satu bulan kedepan.
“Mah, engga ada yang perlu ditangisi. Heri bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk melihat dunia yang indah ini walaupun sesaat. Apalagi bisa dilahirkan oleh seorang ibu terbaik didunia seperti mamah. Percaya deh semua orang pasti akan mati, jadi engga ada yang harus ditangisi” senyumku mencoba menghibur ibuku yang sangat ku sayangi itu. Beliau menghapus air matanya, tersenyum dan memeluk hangat tubuhku.
================================================
Dia terus menampakan muka sendunya. Dibalik parasnya yang cantik ia memendam seribu ketakutan. Sudah dari dua bulan yang lalu aku melihat Fia teman kecilku yang telah semakin menjauh itu bersikap acuh padaku, setiap aku memandangnya dari luar rumahnya kearah beranda lantai atas tempatnya bersantai, Fia seakan memberikan tatapan sinis yang seolah menendangku jauh-jauh.
Semakin hari aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi padanya. Sepulang kerja akhirnya aku memberanikan diri untuk berkunjung kerumahnya.
“nyari siapa mas?” tanya seorang satpam yang menanyakan maksud kedatanganku
“Em… iya pak saya temannya fia, bisa saya bertemu dengannya?”
“oh temennya non fia, mari mas silahkan masuk” sambil membukakan pintu pagar yang semula terknci.
Sesampainya didalam rumah aku dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu yang bekerja di rumah fia, dengan senyuman tulus aku aku berterima kasih padanya yang telah membawakan ku sebuah minuman.
Beberapa menit aku menunggu, seorang wanita paruh baya yang cantik menghampiriku “perkenalkan, saya ibunya fia”
“saya heri tante, saya teman kecil fia dulu. Akhir-akhir ini saya sering bertemu dengan fia tapi saya heran dengan sikapnya yang begitu acuh pada saya tente. Padahal dulu dia engga begitu kok” kataku dengan jujur.
Tante terdiam dan menarik nafas pertanda ingin menjelaskan sesuatu, “tiga tahun lalu fia mengidap penyakit liver, tapi sekarang kondisinya semakin buruk. Sampai dua bulan yang lalu dokter mengatakan umur fia hanya tinggal sementara saja, fia menjadi frustasi karena itu. Tiap hari kerjanya hanya murung dan marah-marah saja, sekarang dia sudah tidak mau kuliah lagi karena menurutnya itu sia-sia saja” kata tante yang suara terbata-bata sambil menangis.
Aku yang mendengar kata-kata dari ibu fia seolah tak bisa mengeluarkan kata-kata karena terkejutnya.
“tante bingung harus berbuat apa Her, kalau seandainya nyawa tante bisa ditukar dengan nyawa Fia tante rela”
“Sst… tante gak boleh ngomong begitu, semua itu sudah takdir dari tuhan” kataku yang mengambil sebuah tisu untuk menghapus air mata sang ibu yang sedang sedih itu.
Fia turun dari lantai atas, aku memandangnya sambil tersenyum begitu juga dengan ibu fia tapi Fia hanya memberikan tatapan muka sadis dan segera pergi keluar rumah.
Ibu Fia menangis lagi melihat tingkah anaknya itu, sambil menangis ibu Fia meminta saya untuk mengikuti fia. Aku mengangguk lalu pergi.
Aku mengikutinya. Ia berhenti di sebuah pantai yang sepi dengan mobil honda jazz silver miliknya. Perlahan aku mencoba mendekatinya, tapi ternyata Fia mengetahui kehadiranku. Dengan mata tajam yang membunuh ia berkata “ mao loe tuh apa sih? Kenapa loe ngikutin gue melulu?”
“Loe masih inget gue kan? Gw heri temen kecil loe dulu. Akhir-akhir ini gue sering liat loe murung diberanda lantai atas rumah loe. Gue pikir loe butuh seorang teman?” kataku dengan perlahan yang sedikit takut mendekatinya karena tampang tampan nan sadisnya itu.
“gue gak butuh temen atau siapapun. LEBIH BAIK LOE PERGI SEKARANG”
Aku yang sudah emosi dengan sikapnya geram dan akhirnya kelewat ntolot, “ENGGAK, GUE GAK MAU PERGI PERGI”
“gue nga ngerti sama loe, mau loe tuh apa sih?” tanya fia dengan penuh kekesalan.
“mau gue loe bisa menghadapi semua kenyataan yang loe hadapi, mau gue loe bisa bersikap normal walaupun ada sesuatu yang terjadi pada diri loe. Gue ngerti perasaan loe”
“ENGGAK,gak ada yang mengerti bagaimana perasaan gue. Mendingan sekarang loe pergi dan gak usah ngurusin gue. GUE TUH MAU MATI TAU!!!” katanya sambil menekankan kata-kata mati.
Mendengar kata-katanya dengan spontan aku menamparnya, aku tak terima ia berbica seperti itu walaupun untuk dirinya semdiri. Kini emosiku semakin meluap-luap. dengan rasa dongkol yang sejak tadi terpendam akhirnya aku menumpahkan sejuta emosiku itu, “loe tuh egois, kalo loe mau mati jangan loe buat orang tua loe seakan mau mati juga. Kalo loe mau mati jangan loe nyusahin orang, kenapa gak sekarang loe mati aja hah?. Loe pengecut, loe enggak bisa terima kenyataan. Loe harusnya berfikir dan menghabiskan waktu loe yang berharga ini buat ngebahagiain orang-orang disekitar loe bukannya malah bikin mereka sedih karena sikap gak penting loe ini”
Fia tertunduk mendengar kata-kataku,ia seakan meresapi kata demi kata yang aku lontarkan padanya. “tapi her, tetep loe enggak akan ngerti betapa takutnya gue saat ini, gue ngerasa hidup gue ini dikejar oleh kematian”
Sambil duduk didekatnya tak terasa air mata ku menetes. “loe masih beruntung fii, seenggaknya loe masih bisa hidup lebih dari satu bulan. Gue ngerti banget perasaan sakit loe, harus gue akuin walau bagaimana tegarnya gue perasaan takut itu terkadang gue rasain juga”
“maksud loe apa her?”
“gue punya penyakit leukimia, dan kata dokter umur gue maksimal Cuma sampai bulan depan. Kadang gue juga merasa takut seperti loe tapi akhirnya gue berfikir kalau rasa takut itu bukan sesuatu yang harus gue fikirin, yang gue harus fikirin adalah bagaimana caranya kalau gue pergi nanti gue bisa memberikan kenangan manis buat mereka tanpa harus menjadi beban buat mereka dan mereka bisa mengikhlaskan kepergian gue” kataku yang akhirnya menjelaskan semua penat yang ada dihati.
Fia tercengang mendengar kata-kataku, ia tidak percaya kalau ternyata saat ini aku sakit. Tapi akhirnya seketika hatinya seperti luluh dan luapan emosi yang tertuang diwajahnya kini pudar. “Her, gue minta maaf. Gue janji akan berubah. Mulai detik ini gue akan tunjukin kalau gue bisa lebih baik. Dan gue janji sama loe akan selalu menemani loe sampai nanti agar rasa takut loe hilang” tulus Fia, aku tersenyum.
===============================================
Tuhan…..
Bila nanti waktu itu datang
Aku ingin tidak ada sendu
Bila nanti engkau menjemputku
Aku ingin mereka ikhlas melontar senyuman untukku
Maka dari itu Tuhan…..
Berikan aku kekuatan tuk hariku yang pendek ini
Berikan mereka kekuatan melepas diriku
Berikan aku sebuah akhir yang indah
Akhir dari sebuah kematianku…….
Hari ini aku akan pergi kesuatu tempat dengan fia. Kini aku sudah akrab dengannya. Fia kini sudah jauh lebih baik, ia sudah bisa menerima kenyataan dan bersikap normal.
Setelah Fia datang dan menunggu diruang tamu, aku segera turun. Fia tersenyum “udah siap?”. Aku tersenyum tanda siap.
“Her, tadi dinda telpon ketika kamu tidur.Dia menitipkan sejuta terima kasih pada kamu” kata ibuku sambil tersenyum tulus.
“memang kenapa dengan dinda tante?” tanya fia yang tak mengerti atas ucapan ibuku.
Ibuku pun menjelaskan tentang rencana perceraian kedua orang tua dinda, dan menjelaskan bahwa aku menemui kedua orang tua dinda untuk bercerita betapa terpuruknya dinda atas keadaan yang terjadi juga menjelaskan betapa dinda rindu pada keharmonisan keluarganya dulu. Kedua orang tuanya pun kembali berbaikan.
“iya mah, bilang sama dinda Cuma itu yang bisa heri lakukan. Selebihnya heri minta maaf” kataku sambil tersenyum.
“ya udah mah, heri pergi dulu yah? Jaga kesehatan mamah trus jangan lupa makan yang teratur yah?” kataku pamit.
“kamu ini, mau pergi seharian aja kayak mau pergi seminggu” celetuh ibuku cemas. Aku hanya tersenyum atas komentar ibuku.
Sesampainya disuatu tempat yang luar biasa indah aku dan fia turun dari mobil. Tempat ini sungguh mahakarya yang luar biasa, udara segar dan rimbunnya pohon-pohon yang hijau membuat ku merasa nyaman disini.
“Her, tempetnya baguskan? Gue sering kesini karena tempat ini indah banget. Dan setiap gue kesini gue selalu inget loe karena tempat ini seindah loe yang telah mengisi hari-hari gue”
Aku hanya senyum dan tidak berkata-apa, aku masih terkesima dengan tempat yang indah ini walaupun aku merasakan sesuatu yang tak menentu pada diriku dan setiap aliran darahku saat ini.
Fia menarik tubuhku untuk bersandar dipundakku sambil menggenggam erat tanganku, terasa denyut jantungku yang masih berdetak dengan kencang. “Her, sungguh gue berterimakasih sama loe yang telah mengisi dan membuat hidup gue jadi bermakna. Loe harus tau her, bagi gue loe adalah berlian bagi gue”
Lagi-lagi aku hanya tersenyum, tapi kali ini aku merasakan sakit yang luar biasa dibalik kehangatan dipelukan fia. Tubuhku seketika lemas dan membuatku tak bisa menahan tuk menutup mataku. Seraya aku sadar, ini saat ku pergi.
=============================================================================
jogja’09
masherry
dikamar bisu nan bau
@ngginpun enggan mampir
==–==–==–==–==–==–==
kapankah aku itu mati ?
apakah pada saat tubuh tertembus peluru ?
apakah pada saat memakan jamur beracun ?
aku itu mati, pada saat aku dilupakan kalian

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.