Dilema sebuah hati
Kekuatan cinta mampu menyulap segala ketidakberdayaan menjadi kekuatan hati. House of Flying Dagger, memberikan pelajaran bahwa cinta tak pernah melihat kesempurnaan. Kesempurnaan cinta adalah ketika kita dengan rela melepaskan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya, meskipun kita sadar sepenuhnya bukan kita pilihan hatinya.
Cinta yang akan membuat kita merasa sempurna. Apapun keadaan kita, magicnya membuat kita mampu melihat pilihan kita di segala penjuru hati.
“Bagaimana kita menjalani hidup ini bersama” katamu padaku.
“Hidup bagaikan angin..” kataku
“Dia tidak akan pernah berhenti, dan kita hanya pion-pion kecil” lanjutku lagi.
Kaupun terdiam. Menatapku yang juga terdiam. Menatap langit dengan banyak awan putih yang keperakan. Merasakan desiran angin yang menerpa lembut kulit tubuh.
“Seharusnya kau tak kembali”. Lanjut ku tanpa menatapnya, tanpa expresi. Hanya tetap memandang luas hamparan laut biru di hadapanku.
“Aku sengaja meninggalkanmu sendiri, sebenarnya karena aku ingin menyelamatkanmu” katanya dengan tanpa menolehku.
“Ah…! Menyelamatkanku??! Menyelamatkan dari rasa busuk yang kau beri untukku? tanyaku dengan tajam.
“Tidak! Tapi menyelamatkanmu untuk banyak arti!” kali ini dia menolehku sesaat.
“Tapi dalam kenyataanya, kau membunuhku! “ucapku dengan benci.
Dan kali ini masing-masing kita sibuk dengan pikaran sendiri-sendiri.
Cinta membuatku bisa menelaah, bahwa sebenarnya pilihan itu tak pernah usai. Selalu ada hal yang memaksa kita memilih satu di antaranya.
“Kita berbeda dalam segalanya. Hanya cinta yang menyatukan kita. Namun ketika cinta itu ternoda, apa lagi yang bisa menyatukan kita??”
“Jika kamu inginkan 2 kelinci sekaligus dan mengejarnya bersamaan, maka artinya kamu akan kehilangan ke dua nya” ucapku getir.
Dan kau hanya mampu terdiam menatapku. Entahlah! Aku selalu benci tatapan itu. Tatapan yang seolah ingin katakan, “Please! Aku mencintaimu, juga mencintainya..!”
Damn!
Serendah itu makna cinta untukmu.
Dan aku memutuskan pergi. Pergi untuk banyak hal. Meninggalkan semua kepenatan ini. Aku dan kenangan bersamamu. Berharap dan masih berharap dengan tulus kau bahagia bersamanya….***
Kenapa rokok terasa semakin nikmat saat aku berfikir hendak berhenti merokok? Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa suatu hari nanti aku akan meninggal karena paru-paruku bocor akibat nikotin. Tapi parahnya, dia bahkan mampu menghabiskan empat bungkus rokok dalam sehari, dan masih bisa menceramahiku tentang bahaya merokok?
What? Rokok?
Yah…! Entah kenapa, setelah 5 tahun meninggalkan semuanya tanpa memberi sedikitpun jejak, aku jadi perokok aktif. Aku sadar ini bukan kebiasaan yang baik. Tapi itu yang mampu membuatku tak ingin kembali. Ironisnya, aku tenggelam dalam kesibukanku di karir. Mengosongkan ruang di hatiku untuk cinta baru. Entah kenapa, tak munafik, jauh di kedalaman hatiku aku inginkan dia kembali. Ah…sungguh tak mungkin! Bisa saja sekarang dia telah miliki seorang anak.
“Eh Om temennya mamah yah…” Oh God…tak kubayangkan suara mungil itu akan menyebutku Om…
Aku tersenyum pahit..
Aku bahagia melihatmu. Meski itu bukan aku. Aku begitu mencintaimu. Meski ku tau, kaupun mencintainya. Aku tak pernah ingin tau siapa yang lebih dulu hadir di hatimu, yang aku peduli, aku tak pernah mendustai hatiku.
masherry
@nginpun enggan mampir
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
