goresan masherry


Mimpiku

Posted in celoteh, cerpen by Administrator on the July 18th, 2009


Mimpi itu kata sebagian orang indah. Mimpi itu lagi-lagi kata orang menyenangkan. Kita bisa membolak-balikan ending cerita seperti yang kita mau, tidak hanya berakhir bahagia tapi juga bisa memilihnya menjadi ending yang berakhir derita. Berbagai macam orang boleh bermimpi, mimpi tentang hidup, mimpi tentang cinta, mimpi tentang kebahagiaan atau mimpi apapun. pikiranku pun akan selalu berteriak:
“Ayoo Herry! Bermimpilah…bermimpilah yang indah!”

Tapi, sepertinya setiap mimpi yang aku punya tak pernah berakhir indah, malah kepedihan yang ada di depan mata. Makanya aku tak pernah berani lagi untuk bermimpi apalagi menuliskannya.

Aku pernah bermimpi menulis semua mimpi. Ketika mimpi yang tertulis semua tampak indah. Khayalan yang diformulasikan menjadi ledakan-ledakan harapan. Kenyataan yang bahagia seakan ke dalam bentuk yang nyata. Indah semua mimpi yang tertulis, segan rasanya dan tak ingin berniat merangkai serta membentuk mimpi yang berakhir nestapa apalagi menuliskannya dengan akhir menderita.

“Kita hidup mesti memiliki mimpi..mimpi yang indah! Mimpi itu bisa jadi harapan dan cita-cita!” kalimat tersebut yang kerap kudengar ketika masih bersekolah. Ketika pak guru ataupun ibu guru mengajari kami, anak muridnya. Sehingga kata-kata tersebut memotivasi aku untuk memiliki mimpi bahkan menuliskan mimpi dengan akhir yang sangat… sangat… dan sangat indah.

Entah apa cita-cita yang kebablasan diusung dalam bentuk mimpi, atau memang mimpi yang kutuliskan berdasarkan dari cita yang ku inginkan. Maka dari itu, aku terus giat bermimpi. Bahkan tidak hanya di pikir, tapi aku menuliskannya. Menuliskan beraneka ragam mimpi yang kuharap menjadi kenyataan terindah yang ku alami dalam kehidupan.

Tapi apa buktinya!! Ternyata mimpi indah itu tak ada, mimpi indah itu hanya milik orang-orang yang kaya, priyayi turunan yang memiliki harta yang banyak, mimpi indah itu tidak dimiliki oleh orang-orang seperti aku, Tole, Johan, Yuk Narsih, atau Mbok Jum. Orang-orang yang berharap besar terhadap kehidupan kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau kota besar lainnya. Di kota lebih mudah mencari uang dari pada di kampung, itu pikiran kami. Jadi, saat inipun aku sedang terdampar di salah satu kota besar tersebut untuk bermimpi suatu saat akan mendapat durian runtuh.

Bagi kami tidak ada mimpi yang indah. Tidak ada mimpi yang menuai harapan, mempunyai mobil mewah minimal dua, memiliki pendidikan yang tinggi, mempunyai rumah real estate dengan kolam renang di dalamnya, punya pakaian bagus, makanan dan minuman yang lezat disantap setiap hari.

Makanya sekali lagi kutegaskan aku tak berani bermimpi, apalagi menuliskannya. Bagiku bisa makan hari ini sudah alang kepalang nikmatnya, boro-boro mau bermimpi makan enak setiap hari, toh mimpi yang indah tak akan datang pada kami.

Baiklah… akan kuceritakan tentangku dahulu. Namaku Herry. Dulu aku rajin menulis, menulis apa saja walaupun Mbok Jum bilang tulisanku rada ngawur dan nyeleneh. Tapi beliau berkata kalau tulisanku indah, dinding lebar bekas supermarket terkenal di daerah alun-alun kota yang telah bangkrut hampir terisi penuh oleh tinta arang yang kugunakan. Kertas-kertas kardus yang aku kumpulkan untuk sekedar menambah-nambah penghasilan dari mengamen, tak luput oleh tulisan puisi-puisi picisan.

dynamicptr.com

Semua aku tulis dengan tema yang berbeda. Mulai dari bagaimana lelahnya mencari uang, berkelahi dengan preman, melihat mobil yang berseliweran pun aku menuliskannya. Aku pikir lumayan dengan menuliskan apapun, maka susunan otakku yang bodoh mesti terus di asah supaya tidak semakin tinggi tingkat kebodohannya. Jadi dengan menuliskan mimpi kuharap sensor-sensor otak ku merespon positif sehingga pribadi yang tercipta pun akan semakin membaik.
Mimpi pun aku tuliskan pada dinding ilusi, merangkai hurup, membentuk kata tersusun menjadi kalimat yang bermuara pada paragrap-paragraf mimpi, dan tentu saja akhir mimpi yang aku tulis selalu berakhir kebahagian, keindahan, coba lihat saja mimpi yang dulu pernah aku tulis

• Mimpi satu.

Pernah suatu saat aku menuliskan mimpi memiliki rumah yang megah, bertingkat lima, kolam renang yang luas, halaman rumah yang mempunyai area tanah yang luasnya lebih dari lapangan sepak bola tempatku biasa bermain, rumah megah yang memiliki kamar-kamar berukuran 10×10 berjumlah lebih dari 1000 kamar.
Kamar-kamar tersebut akan di desain dengan gaya minimalis yang terkesan esklusif, dilengkapi dengan fasilitas elektronik yang tercanggih, akan dipasang pada tembok kamarnya monitor televisi layar datar ukuran besar entah namanya apa- yang pasti aku pernah melihat brosurnya disalah satu tong sampah di kawasan Asia Afrika- rancangan kamarnya bergaya Eropa tapi tetap terkesan sederhana.
Jangan aneh kalau aku ingin membuat lebih dari 1000 kamar, kamar itu bukan untuk aku pribadi tapi untuk semua teman-teman seperti diriku, yang ternyata jumlahnya tersebar banyak di kota besar manapun. Aku akan menampung mereka dirumah mewahku, memberikan fasilitas gratis dan juga pendidikan gratis bagi mereka.

Aku tidak mau seperti para konglomerat ataupun orang-orang berduit, yang membangun rumahnya layaknya sebuah istana dan memiliki kamar-kamar bergaya suite. Memiliki rumah lebih dari satu dan tersebar ditiap daerah. Tapi tidak mempedulikan para orang miskin dan anak jalanan seperti kami. Yang tak mau memberikan lahan tidur buat orang miskin. Sungguh menyedihkan malahan ruang yang kosong di rumah megah orang-orang berduit itu hanya dibuat untuk keperluan lantai dansa, coffe bar ataupun ruang pesta yang dipakai sesekali saja

* Mimpi dua

Aku pun pernah bermimpi ingin mempunyai pendidikan yang tinggi. Lulus SD berlanjut ke SLTP, selesai SLTP kemudian SLTA lalu ke UNIVERSITAS ternama, meraih S1 dengan cum laude kontinyu ke S2 di Belanda lalu terbang ke Amerika untuk mengambil S3 karena beasiswa. Kenapa Belanda? Kenapa Amerika? Sangat simple….aku ingin memperlihatkan ke mereka bahwa orang Indonesia itu pintar, orang Indonesia itu mempunyai IQ yang tinggi walaupun pernah dijajah Belanda, sehingga mendapatkan beasiswa untuk yang setingkat S3, kalau ingin ke Amerika aku justru tidak tahu alasannya, tetapi aku sering mendengar kalau Amerika itu negara yang serba ada dan serba canggih jadi aku ingin bersekolah disana.

Dengan pendidikan yang tinggi tersebut, aku akan terapkan ilmunya di negara tercinta ini, tidak seperti mereka yang ditahan di negara-negara tempat mereka menimba ilmu dengan alasan gaji di Indonesia sedikit, di Indonesia taraf kehidupannya belum stabil untuk orang-orang berpendidikan, di Indonesia pemerintahnya masih menganggap tiada bagi orang-orang berintelektual tinggi dan hanya dihargai senilai lulusan SLTA, jadi mereka yang berpendidikan itu betah “berlama-lama” di negeri awal mereka meraih gelar.

Tapi aku tidak akan seperti mereka. Tujuanku berpendidikan tinggi bukan untuk mencari kerja, tetapi aku ingin mendirikan lapangan pekerjaan. Membuka lowongan usaha selebar-lebarnya, sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya. Tidak hanya itu aku akan memberikan pendidikan ataupun keahlian nyata bagi orang-orang miskin yang tak mampu bersekolah. Anak-anak jalanan yang mengadu nasib di jalan karena tak tahu apa lagi yang mesti dikerjakan selain meminta-minta tentunya dan mendapat cap sampah masyarakat!

Ingat….! Gelar Professor, Doctor, Master, bahkan seabrek gelar yang kelak aku miliki tujuannya bukan untuk mencari pekerjaan, tetapi sekali lagi aku garis tebalkan adalah untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Sehingga tidak ada lagi anak-anak yang masih “bermain” di jalan sampai larut malam hanya untuk mendapatkan makan. Atau melihat Mbok Jum ataupun Yuk Narsih berkeliaran di tengah malam menunggu datangnya para hidung belang karena tak mengerti caranya mencari uang di tengah saingan orang-orang pintar.

* Mimpi tiga

Sempat juga aku mempunyai mimpi memilili rumah megah, pendidikan tinggi, mempunyai perusahaan sendiri, bisa mempekerjakan orang, memberikan peluang usaha bagi teman-teman . Tentu aku pun mempunyai mimpi dasar, naluri laki-lakiku mesti tersalurkan, libidoku tak boleh dipendam. Iya..! Aku bermimpi mempunyai keluarga yang bahagia, mempunyai calon istri yang cantik, pintar, taat orang tua, dan yang terpenting shalehah serta seiman.

Calon istriku selain cantik dia mesti pintar karena untuk menyeimbangkan pola pikir ku yang lulusan S3, calon istriku mesti piawai mengurus rumah tangga, walaupun istri pintar, dia harus bisa melakukan pekerjaan inti sebagai seorang wanita, tidak hanya karier yang di urus tetapi dia mesti mau mengurus bakal anak kelak, mengurus ibu bapakku bila telah renta -walaupun kenyataannya aku tak tahu kemana perginya mereka-, menciptakan keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah, mendidik putra putri kami dengan basic agama yang kuat, agama yang benar.

Benar aku bermimpi menikah di usia muda di umur 28. Senangnya ketika umur 28 tersebut, gelar S2 sudah ku miliki. Beristri yang cantik, pintar dan sholehah. Ketika S3 sudahku dapat, mungkin usia ku belum terlalu tua. Whoooaah senangnya menikah muda! Coba bayangkan, perusahaan ada, rumah tersedia, mobil ada lima, calon istri siap sedia……apa lagi ???? tidak ada sempurnanya hidup selain seperti itu.

Terbaca bukan betapa hebatnya mimpi-mimpi yang pernah aku tuliskan. Begitu indah akhirnya. Tiada kepahitan, tiada kecemasan, segalanya tampak hebat. Tapi apa yang terjadi, aku katakan mimpi itu tidak ada yang indah bagiku, berkali-kali kutekankan mimpi indah itu milik kaum-kaum berduit. Berhari-hari aku menulis mimpi tersebut, beribu-ribu minggu, berjuta-juta bulan, bahkan ternyata bermilyar-milyar tahun rasanya mimpi indah itu tak akan bisa ku dapatkan untuk menjadi sebuah kenyataan.

Putus asa….tentu saja tidak?! Tapi aku termasuk orang yang mawas diri, tolong bedakan antara putus asa dan mawas diri. Buktinya semuanya hilang, karena mimpi itu tak pernah datang! Apa kalian tidak percaya apa yang telah ku katakan?!

====================================
Terinspirasi dari Ryu my best friend @Tangerang
Thanks for sharing your story about dream
Hope all about uR dream will come true
====================================



Teman Lama

Posted in cerpen by Administrator on the July 18th, 2009

Berawal dari hari libur di pagi hari, membuka situs jaringan sosial. Aku mendapati sebuah permintaan untuk “tambahkan sebagai teman” .! Aku pikir ini cuma orang yang ingin menambah jumlah teman sebanyak-banyaknya untuk dipamerkan pada temannya yang lain di dunia nyata. Kukira begitulah jenis orang yang tidak kukenal sering menambahkan aku ke dalam daftar teman mereka. Aku tahu, karena juga pernah begitu. Tapi akhirnya aku “bertobat” juga, saat akhirnya aku sadar daftar ribuan teman itu tak berguna sama sekali.

Tak ada yang bisa dari mereka yang bisa meminjamkan uang seribu-dua ribu layaknya sahabat di dunia nyata. Tak ada yang mau mendengar keluh kesahku saat suaraku bercerita lemah tak bertenaga.Mereka lebih suka statusku yang kontroversial.

Kembali ke orang yang kukira biasa itu. Pada akhirnya aku tahu dia tak biasa, setelah membuka profilnya fotonya berisi wajah-wajah yang tak asing bagiku. Aku merasa pernah mengenalnya. Tapi dimana? pikirku agak lama. Kucoba menerima permintaan menjadi teman dengannya. Iseng-iseng kukirimkan pesan untuknya, barangkali dia memang kenalanku yang nyaris kulupakan. Pertanyaan pertamaku adalah, apakah kita* pernah berkenalan?

Tak begitu lama, dia mengirimkan pesan balasan padaku. Dia merasa tak mengenalku, dan cuma menambahkan( aku sebagai teman hanya karena di situs tersebut ada pilihan “disarankan untuk menjadi teman”. Baginya lebih mudah memilih mengiyakan siapa tahu memang menjadi teman beneran. Mendapat jawaban begitu aku cuma manggut-manggut, sekaligus tersipu malu. Itu seperti menyapa orang yang kita kenal, tapi ternyata bukan yang kita harapkan. Tapi tetap saja, aku belum merasa tenang.





Sejenak aku melupakan teman baru itu, dan beralih ke tempat yang lain. Chatting, adu status, buka forum, baca koran online, hingga sesekali melotot ke situs yang panas karena penuh api untuk membuat mataku gerah berair. Lalu aku menyeka dengan tanganku, karena meski di dalam kamar gengsi kelaki-lakianku tetap tinggi. Aku tak ingin siapa pun melihat aku kelihatan menangis padahal itu hanyalah sela-sela mataku yang berkeringat. Lalu petualangan itu berlanjut lagi hingga ujung yang aku sendiri tak sadar dimana letaknya.

“Diana”
Aku membaca sebuah nama tulisan nama seperti nama mendiang puteri dari Inggris.
“Di..,”bisikku lirih tanpa ingin melanjutkan suku kata selanjutnya.
“Di……….”

Itu seperti penggalan nama seseorang di ingatanku. Seseorang yang kupikir pernah bercerita tentang sakit hatinya karena pria cinta pertamanya merampok kegadisannya dan pergi begitu saja dengan wanita lain. Seseorang yang mengadu nasib berjuang mengalahkan trauma cinta pertama demi menggapai hubungan cinta sejati pada kekasih kedua. Berharap itu yang kedua, dan yang terakhir. Tapi, pada akhirnya dia mengumpat. Tepat di telingaku, berteriak tentang semua laki-laki yang sama saja. Dia kecewa karena harapan cinta sejatinya kandas juga.

Aku cuma tertawa kecil dalam hati. Kisahnya sedih seperti judul lagu-lagu dangdut sedih, seperti konflik film india yang terlalu dibuat-buat, seperti sinetron sedih tak berujung. Klise. Tapi aku menunjukkan tawaku itu.
“Kalau semua laki-laki sama, kenapa mau cerita denganku?’
Dia menatapku dengan tajam. Awalnya kami berpandang mata, lalu bola matanya turun ke bawah perutku.
“Aku belum pernah melihat celanamu gembung berisi kalau kita berdekatan. Jadi kupikir kamu..,” ucapannya tak berlanjut tapi dia bicara sambil tertunduk malu-malu.
“Oh, begitu.”
Dia tertawa mendengar jawabanku yang pendek, mungkin karena dia melihat aku juga membuang wajahku yang masam setelah dilecehkan olehnya dengan kalimat itu.
“Maaf.”katanya dengan suara sungguh-sungguh.

Setelah itu kami tak bertemu lagi. Kami hanya bertukar kabar lewat pesan pendek. Setiap hari kabarnya sama. Stress, pusing. Semua karena pria cinta pertama ingin kembali padanya, atau pria kedua ingin bercinta dengannya untuk terakhir kalinya.

Katanya, pria pertama meneleponnya dengan ancaman akan bunuh diri jika tak menerimanya kembali. Saat dia menelepon, terdengar suara-suara teman pria itu yang gaduh mencegah pria* itu membuang minyak tanah ke sekujur tubuhnya. Kata temanku itu, dia takut pria itu bunuh diri tapi dia sakit hati*. Aku dimintanya kembali tapi dia masih tidur sekamar dengan wanita lain, begitu tulisnya dalam pesan pendeknya suatu malam.

Tentang pria kedua, dia mengaku merasa nyaris gila juga. Setiap hari pria itu mengirim pesan-pesan pendek mesra atau menelpon dengan desahan-desahan menggoda. Memohon agar diijinkan( bercinta sekali saja. Bahkan saking gilanya, pria kedua ini selalu meneror pria lain yang ingin mendekati teman wanitaku ini. Pria itu sebenarnya cuma pria rumah tangga dengan tugas mengurusi anak -anak mirip seperti ibu rumah tangga. Perbedaan untuk pria kedua ini, dia sebagai bapak rumah tangga, sedangkan istrinya bekerja. Aku pernah dimintanya ke rumahnya menina bobokkan anaknya yang masih bayi itu kemudian melayaninya bercinta saat istrinya sedang bekerja di luar. Habis-habisan kumaki hingga keluar semua kata-kata kebun binatang pada laki-laki itu, katanya di ujung kisah lirih lainnya yang dia kirim padaku.


Hatiku hancur bercampur bingung tiap kali dia mengirim kisah sedih padaku. Tapi aku tak bisa bicara banyak. Setelah itu beberapa saat, kami tak saling mengirim kabar lagi. Sempat kutanyakan kabar, tak dibalas. Mungkin dia menyesal berteman denganku, begitulah kataku pada diriku sendiri.

Namun suatu hari dia muncul. Bukan di depan pintu rumahku, atau kamarku. Dia meneleponku. Suaranya sayup-sayup kudengar penuh suara ramai. Aku gagap menerima teleponnya.
“Aku akan berangkat.”katanya dengan suara terdengar riang.
“Kemana?”
“Ke luar negeri.”
“Oh, urusan pekerjaan?”
“Bukan. Aku menikah. Dia memberiku cincin yang besar, besar sekali.
“Siapa? Pria pertama? Atau Pria kedua?”
Tawanya pecah mendengar pertanyaanku.
“Dasar anak bodoh. Bukan dua-duanya. “Jadi ada pria ketiga?”
“Hahahaha..salah.”
“Maksudnya?”
“Pria keempat.”
“Kamu tidak pernah cerita ada pria ketiga.”
“Memang. Aku tak menghubungimu selama ini karena jatuh cinta dengan pria ketiga.”
“Lalu kenapa menikah dengan pria keeempat?”
“Tiga hari yang lalu pria ketiga memutuskan aku karena dijodohkan orang tuanya dengan wanita lain. Aku sakit hati dan mabuk-mabukan dari bar ke bar. Aku bertemu dengan pria keempat ini di situ Katanya dia mabuk cinta padaku.”
Aku tercenung dengan ucapannya. Aku melihat ke udara, barangkali bisa kulihat bayangan dewa Cupid. Karena jika aku bisa melihat dewa cinta itu, aku akan membanting habis-habisan. Salahnya kenapa menembakkan terlalu banyak panah cinta kepada wanita itu.

“Laki-laki itu pasti sedang mabuk bicara begitu. Hey, Kamu tidak mabuk khan, sayang?” tanyaku pelan-pelan.
Kini tawanya pecah lagi.
“Baru sekarang kau memanggilku sayang. Biasanya kau memanggilku wanita dodol, ha ha.”
Aku tersenyum kecut dengan ucapannya. Aku tak terlalu berpikir soal itu, malah mengkhawatirkan keadaannya.
“Sudah kamu pikirkan keputusanmu.”
“Sudah.”
“Bagaimana kalau dia punya sudah punya istri.”
“Entahlah. Aku tak tahu. Aku tak mau tahu.”
“Lalu kapan kamu kembali?”
“Mungkin tidak kembali. Jika aku kembali, mungkin kamu akan menyebutku turis asing.”
Sejenak aku merasa bumi yang ramai ini berhenti berputar, lalu sepi sekali seperti kuburan.
“Apa kamu yakin pergi? Aku rasa aku bisa belajar membuat celana di bagian bawah perutku menjadi sempit,” ujarku pelan, “Asal kau tak pergi.”
“Ha ha, Dasar anak kecil, aku pikir kau takkan pernah bicara begitu padaku. Maaf sayang, aku sudah menikah. Sudah ya, suamiku memanggil..”
Lalu dia menutup telepon ituI. Aku menangis, entah sedih atau bahagia. Dalam sekejap aku merasa sudah berada di bandara melambaikan tangan dengan hati hancur kepada setiap pesawat yang berangkat entah kemana.

***
Aku terbangun dari istirahat siangku menjelang sore. Aku tergopoh-gopoh membuka komputerku, sesekali mengumpat karena merasa mesin pintar itu terlalu lama bekerja. Sambil berdoa jaringan internet tak putus, kembali membuka situs pertemanan itu. Kemudian mengirim sebuah pesan pertanyaan,
“Kamu Dy? Maksudku Devy, khan?!
Tak ada jawaban. Kutunggu beberapa jam. Terakhir aku memerika profilnya, data pribadinya sudah lenyap. Aku putus asa, dan meletakkan kepalaku di tempat tidur.
Aku baru sadar saat bibirku disentuh dengan lembut oleh bibir yang lain.
“Di, kamu pulang juga akhirnya!.”ujarku sambil mengulum bibir itu. Namun, kecupan itu terlepas.
“Di? Itu siapa, mas? Namaku tidak ada panggilan “Di”?
Aku membuka mata, melihat wajah pacarku ketus.
“Mati aku! Salah sebut nama.

==========================
jogja’09
tak bisa menilai harga
tak mampu mengukur panjang
tak dapat menimbang berat
dapatkah kutahu siapa aku?
==========================
masherry di kamar sepi nan bau
@ngginpun enggan mampir


  • battleship yamato wreck
  • hp support error 1005
  • vince young 6
  • chad ochocinco to patriots
  • currency
  • chad ochocinco traded
  • vince young yahoo stats
  • thrown
  • la ink 3rd season
  • bungee
  • chad ochocinco to detroit
  • ecommerce
  • search 5500
  • bengals for adoption
  • danger
  • pram
  • mtv 30 years
  • bengals visits
  • raising
  • bea verdi
  • bengals cheerleaders tryouts 2011
  • alphabet
  • hp support englandhp support forum
  • narrative
  • new england patriots espn blog
  • usage
  • dilemma
  • trials
  • la ink show
  • search engines visibility
  • zara phillips dating
  • bea goldfishberg
  • stow
  • chad ochocinco xpchad ochocinco youtube
  • la ink bob tyrrell
  • robbery
  • zara phillips and the queen
  • battleship aurora
  • new england patriots underwear
  • dist 95
  • randy moss arrested
  • la ink season 5 premiere
  • connecticut transit
  • warrant
  • connecticut post
  • colts
  • intelligence
  • chicago bears schedule 2011
  • lariat
  • razr
  • hp support 6930p
  • trampoline
  • connecticut 97.7connecticut attorney general
  • randy moss combine results
  • 1812
  • chad ochocinco yesterday
  • powder
  • greg olsen 2009 calendar
  • la ink yahoo answers
  • chicago bears 08 record
  • c span youtube obama
  • chad ochocinco sisterchad ochocinco twitter
  • fairway
  • search engines 2008
  • new england patriots 84
  • molding
  • la ink games online
  • new england patriots rumors
  • bea karp
  • tea party 8 28 09
  • randy moss yahoo stats
  • connecticut airports
  • search engines compared
  • disassembledis boards
  • output
  • search engines 9
  • zara phillips husband
  • negra
  • bea 4603
  • jewel
  • vince young z
  • zara phillips wedding plans
  • skynard
  • experiment
  • connecticut 7 day weather forecast
  • search engines questions
  • chicago bears donation request
  • zara phillips royal wedding picture
  • tea party birthday
  • freida pinto green dress
  • friction
  • vendor
  • chad ochocinco free agent
  • chad ochocinco quotes video
  • chicago bears football club
  • bengals preseason schedule 2011
  • vince young wiki
  • bea luna
  • potassium
  • neverwinter
  • wheelers
  • connecticut limo
  • chicago bears tickets
  • freida pinto plastic surgery
  • randy moss bio
  • battleship yamato 2010
  • connecticut state parks
  • chicago bears training camp
  • search operatorssearch people
  • search with image
  • hp support number united states
  • vince young 99 yard video
  • tea party ribbons
  • la ink bam margera
  • freida pinto 1995
  • search engines internet
  • chicago bears 2009 roster
  • connecticut juvenile training schoolconnecticut kids
  • la ink 2011 season 5
  • battleship egg hunt
  • la ink price list
  • hp support greece
  • hp support greece
  • chad ochocinco quickstep
  • primo
  • cspan ap government review
  • battleship classes
  • santo
  • ballard
  • tea party hats
  • vince young endorsementsvince young foundation
  • search engines for jobs
  • search chuck norris
  • randy moss korey stringer
  • vince young usc
  • swim
  • beau coup
  • vince young jersey texas
  • stamped
  • new england patriots 1997 roster
  • dis unplugged show notes
  • beamerbea france
  • greg olsen dustin keller
  • deluxe
  • zara phillips youtube 2009
  • battleship ipad
  • mineral
  • tea party for kids
  • chicago bears tattoos
  • bea test
  • tea party zombies download
  • bengals qb situation
  • hp support id
  • cspan kucinich
  • chicago bears garter
  • la ink upcoming episodes
  • chicago bears zip hoodie
  • vince young jay cutler
  • bea nipa
  • chad ochocinco parents
  • battleship hacked
  • connecticut education
  • vince young 10 11
  • new england patriots wiki
  • chicago bears 61
  • randy moss jail
  • chad ochocinco bears
  • greg olsen twitter
  • superchargers
  • connecticut 97.7connecticut attorney general
  • search 3 bodybuilding other index
  • bea binene
  • bengals usa
  • blanco
  • cspan hosts
  • crewe
  • mtv live
  • search engines for jobs
  • chicago bears 4th phase
  • vince young 3rd 30
  • hp support 530
  • tea party agenda
  • bengals 80's
  • zara phillips and the queen
  • chad ochocinco age
  • connecticut department of labor
  • hp support helpline
  • chad ochocinco quits football
  • hide
  • google43412
  • google43412
  • google43412
  • google43412
  • google43412
  • google43412
  • google43412
  • google43412